Kenapa Satu Pola Makan Tidak Cocok untuk Semua Orang?

Pernah tidak Anda merasa begini?

Ada teman yang bilang,
“Sejak puasa gula, badan saya ringan, pikiran jernih.”

Lalu Anda ikut mencoba.
Beberapa hari pertama masih bertahan.
Masuk minggu kedua, badan justru lemas, gampang pusing, emosi tidak stabil.

Atau ada yang cerita,
“Sejak full sayur dan buah, kolesterol saya turun.”

Anda ikut.
Eh, perut malah kembung, sering masuk angin, tidur tidak nyenyak.

Di titik ini biasanya orang mulai bingung.
“Ini pola makannya yang salah, atau badan saya yang bermasalah?”

Nah, di sinilah kita perlu duduk sebentar dan bicara pelan-pelan.

Islam Tidak Pernah Mengajarkan Keseragaman yang Kaku

Dalam Islam, Allah tidak menciptakan manusia dengan satu cetakan.

Allah berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah penciptaan langit dan bumi serta perbedaan bahasa dan warna kulit kalian.”
(QS. Ar-Rum: 22)

Ayat ini tidak hanya bicara soal bahasa dan warna kulit.
Para ulama menjelaskan, perbedaan manusia itu menyeluruh: fisik, watak, kemampuan, bahkan respons tubuh.

Maka aneh kalau urusan makan—yang langsung masuk ke tubuh—dipaksa satu pola untuk semua orang.

Islam itu adil.
Dan keadilan tidak selalu berarti sama rata.

Nabi ﷺ Mengajarkan Prinsip, Bukan Menu Kaku

Kalau kita perhatikan sunnah Nabi ﷺ, beliau tidak pernah membuat satu menu baku yang harus dimakan semua orang setiap hari.

Ada masa beliau makan daging.
Ada masa beliau lebih banyak makan kurma.
Ada masa beliau hanya makan roti dan air.

Bahkan dalam satu hadis, Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa Nabi ﷺ menggabungkan dua jenis makanan yang sifatnya berbeda, untuk saling menyeimbangkan.

Artinya apa?

Sejak awal, Islam mengajarkan keseimbangan, bukan fanatisme satu jenis pola makan.

Masalah Zaman Sekarang: Pola Makan Dijadikan Agama Baru

Hari ini, banyak orang tidak sadar sedang memindahkan fanatisme.

Dulu fanatik mazhab.
Sekarang fanatik pola makan.

  • Ada yang merasa paling benar dengan keto.
  • Ada yang menganggap vegan solusi semua penyakit.
  • Ada yang mengharamkan karbohidrat.
  • Ada yang memusuhi lemak.

Kalau ada yang tidak cocok, jawabannya sering sederhana:
“Berarti kamu belum istiqamah.”

Padahal, bisa jadi masalahnya bukan di istiqamah, tapi di ketidakcocokan tubuh.

Tubuh Manusia Tidak Seragam, Ini Fakta

Coba kita jujur sebagai orang yang mau belajar.

Tidak semua orang:

  • punya pencernaan yang sama,
  • punya metabolisme yang sama,
  • punya aktivitas harian yang sama,
  • hidup di lingkungan yang sama,
  • punya beban emosi yang sama.

Orang yang kerja fisik berat jelas beda kebutuhannya dengan orang yang duduk di depan laptop seharian.
Orang yang gampang kedinginan beda dengan orang yang gampang merasa panas.
Orang yang stres berat beda dengan orang yang hidupnya relatif tenang.

Kalau kondisi tubuhnya beda, makanannya wajar kalau beda.

Sains Modern Mengakui: One Diet Does Not Fit All

Sekarang kita dengarkan sains bicara, tanpa emosi.

Ilmu gizi modern sudah lama menyadari bahwa:

  • respon gula darah tiap orang berbeda,
  • metabolisme lemak tiap orang tidak sama,
  • toleransi terhadap karbohidrat tidak seragam.

Itulah kenapa muncul istilah:

  • personalized nutrition,
  • individual metabolic response,
  • bio-individuality.

Sains baru sampai ke sini.
Sementara pengobatan Arab klasik sudah membicarakan hal ini ratusan tahun lalu.

Dalam Kesehatan Arab Klasik: Tubuh Punya Mizaj

Dalam tradisi kesehatan Arab klasik dan thibbun nabawi, dikenal konsep mizaj—tabiat dasar tubuh manusia.

Ada tubuh yang:

  • cepat panas,
  • ada yang mudah dingin,
  • ada yang lembab,
  • ada yang kering.

Makanan juga punya sifat.
Ada yang menghangatkan.
Ada yang mendinginkan.
Ada yang mengeringkan.
Ada yang melembabkan.

Kalau tubuh yang cenderung dingin diberi makanan yang sangat mendinginkan terus-menerus, apa yang terjadi?
Badan mudah lemas, pencernaan melemah, emosi turun.

Kalau tubuh yang cenderung panas terus dipaksa makan yang memicu panas, apa yang muncul?
Peradangan, mudah marah, sulit tidur.

Di sini kita mulai paham:
masalahnya bukan makanannya salah, tapi tidak cocok dengan tubuhnya.

Kenapa Ada Orang Sehat dengan Pola yang Sama, Anda Tidak?

Ini pertanyaan yang sering muncul.

Jawabannya sederhana tapi sering tidak diterima:
karena Allah menciptakan tubuh yang berbeda.

Ada orang makan nasi banyak tetap ringan.
Ada orang makan sedikit saja langsung mengantuk.

Ada orang cocok puasa panjang.
Ada orang justru drop kalau terlalu sering puasa.

Dan ini bukan soal iman kuat atau lemah.
Ini soal sunnatullah pada tubuh.

Islam Tidak Mengajarkan Menyakiti Diri Sendiri

Allah berfirman:

“Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.”
(QS. Al-Baqarah: 195)

Kalau sebuah pola makan membuat tubuh Anda:

  • terus lemas,
  • sering pusing,
  • emosinya tidak stabil,
  • ibadah jadi berat,

maka itu bukan kesalehan.
Itu tanda ada yang perlu dievaluasi.

Makan itu sarana, bukan tujuan.
Tujuannya adalah bisa beribadah dengan baik dan hidup seimbang.

Kesalahan Umum: Memaksa Tubuh Demi Tren

Banyak orang memaksa tubuhnya mengikuti tren, bukan kebutuhan.

Padahal tubuh selalu memberi sinyal:

  • lewat rasa lelah,
  • lewat gangguan tidur,
  • lewat masalah pencernaan,
  • lewat emosi yang mudah meledak.

Sayangnya, sinyal ini sering diabaikan demi pembenaran:
“Katanya ini paling sehat.”

Sehat menurut siapa?
Menurut tubuh siapa?

Jalan Tengah yang Lebih Selamat

Islam mengajarkan kita untuk:

  • tidak berlebihan,
  • tidak meremehkan,
  • tidak memaksa.

Makanlah yang halal.
Makanlah secukupnya.
Perhatikan dampaknya pada tubuh dan ibadah.

Kalau setelah makan tertentu Anda:

  • lebih fokus sholat,
  • lebih tenang,
  • lebih bertenaga,

itu pertanda baik.

Kalau sebaliknya, jangan keras pada diri sendiri.
Bisa jadi tubuh Anda butuh pendekatan yang berbeda.

Penutup: Dengarkan Tubuh, Jangan Dilawan

Tubuh itu amanah.
Ia tidak bisa bicara dengan kata-kata, tapi ia jujur lewat reaksi.

Kalau hari ini Anda merasa:
“Kenapa orang lain cocok, saya tidak?”

Jawabannya bukan karena Anda salah.
Tapi karena Anda berbeda.

Dan perbedaan itu bagian dari tanda kebesaran Allah.

Ajakan Belajar

Kalau Anda ingin memahami kenapa tubuh manusia berbeda-beda, dan bagaimana menyusun pola makan yang selaras dengan tabiat tubuh, bukan sekadar ikut tren, maka memang perlu belajar ilmunya.

Di ITHBI (Institut Ath Thibbul Badil Indonesia), kesehatan dipelajari melalui pendekatan kesehatan Arab klasik dan thibbun nabawi—yang memandang manusia sebagai makhluk Allah yang unik, bukan mesin produksi massal.

Belajar mengenali tubuh.
Belajar menata makan.
Belajar menjaga kesehatan tanpa melawan fitrah.

Karena dalam Islam, yang dicari bukan sekadar “diet paling benar”,
tapi jalan hidup yang paling seimbang.

Wallahu a’lam bish-shawab.