Mizaj Manusia dan Pengaruhnya pada Emosi

Coba kita ngobrol pelan-pelan.

Pernah tidak Anda memperhatikan ini:
ada orang yang sedikit-sedikit tersinggung, cepat marah, dan sulit sabar.
Ada juga yang kelihatannya tenang, tapi mudah sedih dan suka memendam.
Ada yang ceria, banyak ide, tapi emosinya naik turun.
Ada pula yang kalem, tidak banyak bicara, tapi kalau sudah jatuh, susah bangkit.

Sering kali kita menilai semua itu dengan satu kata: sifat.
Atau lebih jauh lagi, kita cap dengan label: kurang sabar, baper, lemah iman, terlalu sensitif.

Padahal, sebelum jauh menilai, ada satu hal penting yang sering luput kita pahami:
tubuh manusia tidak diciptakan dengan tabiat yang sama.

Dan perbedaan tabiat tubuh inilah yang dalam tradisi kesehatan Arab klasik dikenal dengan istilah mizaj.

Mizaj Itu Apa Sebenarnya?

Saya jelaskan sederhana saja.

Mizaj adalah kecenderungan dasar tubuh seseorang.
Bukan kepribadian buatan.
Bukan hasil pola asuh semata.
Tapi bawaan tubuh sejak awal penciptaan.

Sebagaimana tubuh ada yang:

  • cepat merasa panas,
  • ada yang gampang kedinginan,

emosi pun mengikuti kecenderungan tubuh itu.

Karena emosi tidak berdiri sendiri.
Ia sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik dan keseimbangan dalam tubuh.

Inilah yang sering tidak kita sadari.

Tubuh dan Emosi Itu Satu Paket

Dalam Islam, manusia tidak dipandang sebagai makhluk yang terpisah-pisah antara jiwa dan jasad.
Keduanya saling mempengaruhi.

Makanya, orang yang tubuhnya tidak seimbang, emosinya sering ikut terganggu.
Dan sebaliknya, emosi yang kacau bisa mengacaukan kondisi tubuh.

Mizaj adalah jembatan untuk memahami hubungan ini.

Gambaran Umum Mizaj dan Emosi

Dalam ilmu kesehatan Arab klasik, secara garis besar mizaj manusia sering dikelompokkan berdasarkan kecenderungan sifat panas–dingin dan lembab–kering. Kita tidak masuk teknis beratnya, cukup pahami dampaknya pada emosi.

1. Mizaj yang Cenderung Panas

Orang dengan kecenderungan ini biasanya:

  • cepat bereaksi,
  • emosinya kuat,
  • mudah marah kalau lelah atau lapar,
  • tegas, tapi bisa meledak.

Kalau seimbang, mereka:

  • berani,
  • cepat bertindak,
  • punya semangat tinggi.

Kalau tidak seimbang:

  • mudah tersulut emosi,
  • sulit sabar,
  • gampang merasa gelisah.

Kalau orang seperti ini terus dipaksa dengan pola hidup yang memicu panas—kurang tidur, stres, makanan tertentu—emosinya akan makin sulit dikendalikan.

2. Mizaj yang Cenderung Dingin

Biasanya terlihat:

  • lebih tenang,
  • tidak reaktif,
  • jarang meledak-ledak.

Kalau seimbang:

  • kalem,
  • sabar,
  • stabil secara emosi.

Kalau tidak seimbang:

  • mudah sedih,
  • menarik diri,
  • kehilangan semangat,
  • cenderung memendam.

Sering kali orang seperti ini tidak terlihat “bermasalah”, tapi justru menyimpan beban emosi lama yang tidak pernah keluar.

3. Mizaj yang Cenderung Lembab

Ciri yang sering tampak:

  • mudah terpengaruh suasana,
  • perasaannya halus,
  • cepat terhubung dengan orang lain.

Kalau seimbang:

  • empatik,
  • hangat,
  • menyenangkan.

Kalau tidak seimbang:

  • baper berlebihan,
  • sulit membuat batas,
  • emosinya mudah tumpah.

Orang dengan kecenderungan ini sering kelelahan emosional karena terlalu banyak menyerap perasaan sekitar.

4. Mizaj yang Cenderung Kering

Biasanya:

  • lebih rasional,
  • tidak banyak ekspresi,
  • kuat menahan diri.

Kalau seimbang:

  • fokus,
  • tegas,
  • tahan tekanan.

Kalau tidak seimbang:

  • keras pada diri sendiri,
  • sulit menikmati hidup,
  • emosinya tertahan lama lalu “jatuh” tiba-tiba.

Sering disalahpahami sebagai “tidak punya perasaan”, padahal sebenarnya menyimpan banyak tekanan di dalam.

Kenapa Mizaj Sangat Berpengaruh pada Emosi?

Karena emosi tidak muncul di ruang kosong.

Ia muncul dari:

  • kondisi saraf,
  • keseimbangan hormon,
  • kualitas tidur,
  • jenis makanan,
  • beban pikiran,
  • dan tabiat dasar tubuh.

Dua orang menghadapi masalah yang sama, reaksinya bisa sangat berbeda.
Bukan karena satu lebih beriman dari yang lain, tapi karena tubuh mereka merespons dengan cara berbeda.

Di sinilah sering terjadi kesalahpahaman dalam menilai diri sendiri maupun orang lain.

Kesalahan Umum: Menyeragamkan Cara Mengelola Emosi

Hari ini banyak nasihat emosional yang sifatnya satu arah:

  • “Kamu harus lebih sabar.”
  • “Jangan baper.”
  • “Kurang iman itu.”
  • “Perbanyak dzikir.”

Dzikir itu penting. Sabar itu wajib.
Tapi caranya tidak selalu sama untuk semua orang.

Orang dengan mizaj panas butuh belajar menenangkan dan menurunkan ritme.
Orang dengan mizaj dingin butuh penguatan dan penghangatan.
Orang dengan mizaj lembab perlu batas yang sehat.
Orang dengan mizaj kering perlu kelembutan pada diri sendiri.

Kalau salah pendekatan, niat baik justru jadi beban.

Islam Mengajarkan Keadilan, Bukan Keseragaman

Allah tidak menilai manusia dengan satu ukuran mekanis.

Setiap orang diuji sesuai kapasitasnya.
Dan setiap tubuh diberi tabiat yang berbeda.

Maka memahami mizaj bukan untuk mencari pembenaran,
tapi untuk menempatkan diri dengan adil.

Adil kepada tubuh.
Adil kepada emosi.
Dan akhirnya, adil dalam beribadah.

Emosi yang Tidak Dipahami Akan Menjadi Penyakit

Banyak gangguan emosi hari ini bukan karena orangnya “lemah”.
Tapi karena ia hidup melawan tabiat tubuhnya sendiri.

Makan tidak sesuai.
Tidur tidak sesuai.
Aktivitas tidak sesuai.

Lalu emosi diminta stabil.

Itu berat.

Dengan memahami mizaj, kita mulai belajar satu hal penting:
mengelola emosi bukan sekadar soal niat, tapi juga soal kesesuaian.

Penutup: Kenali Diri, Bukan Menghakimi Diri

Kalau hari ini Anda merasa:

  • emosi mudah naik,
  • atau justru mati rasa,
  • atau sering lelah secara batin,

jangan buru-buru menyalahkan iman Anda.

Bisa jadi, tubuh Anda sedang meminta dipahami.

Mengenal mizaj bukan menjauhkan dari Allah.
Justru sebaliknya, ini bagian dari mengenal ciptaan-Nya—termasuk diri kita sendiri.

Ajakan Belajar

Kalau Anda ingin memahami hubungan antara mizaj, emosi, dan kesehatan secara lebih utuh—bukan sekadar teori, tapi sebagai panduan hidup sehari-hari—maka memang perlu belajar dari jalur ilmunya.

Di ITHBI (Institut Ath Thibbul Badil Indonesia), kesehatan Arab klasik dan thibbun nabawi dipelajari dengan pendekatan yang rapi, bertauhid, dan membumi.
Bukan untuk mengkotak-kotakkan manusia, tapi untuk membantu setiap orang hidup selaras dengan fitrahnya.

Karena dalam Islam, mengenal diri bukan untuk merasa hebat,
tapi agar kita tahu bagaimana kembali kepada Allah dengan cara yang paling jujur.

Wallahu a’lam bish-shawab.