Marah dan Penyakit Jantung: Apa Kata Riset?

Coba kita duduk sebentar, tarik napas pelan.

Pernah tidak Anda merasa jantung berdebar kencang saat marah?
Dada terasa panas. Napas pendek. Kepala seperti ditekan dari dalam.

Biasanya setelah itu orang berkata,
“Ah, cuma emosi sesaat.”

Padahal tubuh tidak pernah menganggap remeh kemarahan.
Yang kita anggap “cuma emosi”, sering kali oleh tubuh dianggap situasi darurat.

Dan jantung adalah organ yang paling cepat meresponsnya.

Marah Itu Emosi, Tapi Dampaknya Fisik

Marah bukan sekadar perasaan di hati.
Ia langsung memicu reaksi di tubuh.

Saat seseorang marah:

  • detak jantung meningkat,
  • tekanan darah naik,
  • pembuluh darah menyempit,
  • hormon stres dilepaskan.

Tubuh masuk mode fight or flight — mode bertahan hidup.

Masalahnya, mode ini diciptakan untuk kondisi darurat sesaat.
Bukan untuk dipakai berulang-ulang setiap hari.

Kalau marah jadi kebiasaan, jantung bekerja di bawah tekanan terus-menerus.

Apa Kata Riset tentang Marah dan Jantung?

Sekarang kita dengarkan sains bicara, dengan kepala dingin.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa:

  • orang yang sering marah memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung,
  • kemarahan yang dipendam sama berbahayanya dengan kemarahan yang meledak,
  • ledakan emosi bisa memicu serangan jantung pada orang yang rentan.

Beberapa studi menunjukkan bahwa dua jam setelah ledakan marah, risiko gangguan jantung meningkat signifikan.
Bukan bertahun-tahun kemudian—tapi jam setelah emosi itu terjadi.

Artinya, marah bukan cuma soal karakter.
Ia bisa menjadi pemicu langsung penyakit jantung.

Kenapa Jantung Sangat Sensitif terhadap Marah?

Karena jantung bukan sekadar pompa mekanis.
Ia sangat dipengaruhi sistem saraf dan hormon.

Saat marah:

  • adrenalin melonjak,
  • jantung dipaksa berdetak lebih cepat dan kuat,
  • pembuluh darah menyempit sehingga aliran oksigen berkurang.

Kalau ini terjadi sesekali, tubuh masih bisa pulih.
Tapi kalau terjadi berulang, pembuluh darah bisa rusak perlahan.

Inilah jalan panjang menuju:

  • hipertensi,
  • penyakit jantung koroner,
  • gangguan irama jantung.

Marah yang Dipendam Tidak Lebih Aman

Ada orang berkata,
“Saya tidak pernah marah. Saya pendam saja.”

Kelihatannya tenang.
Padahal di dalam, tekanannya menumpuk.

Riset menunjukkan bahwa kemarahan yang ditekan:

  • meningkatkan tekanan darah diam-diam,
  • memperberat kerja jantung,
  • meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Jadi masalahnya bukan hanya marah yang meledak.
Marah yang disimpan rapi tanpa jalan keluar juga sama berbahayanya.

Tubuh tidak peduli Anda terlihat sabar atau tidak.
Yang dihitung tubuh adalah tekanan di dalam sistem.

Islam Sudah Lama Mengingatkan Soal Ini

Sekarang kita kembali ke pandangan Islam.

Nabi ﷺ tidak pernah berkata, “Jangan marah karena itu tidak sopan.”
Beliau berkata:

“Jangan marah.”

Berkali-kali.
Bukan karena marah itu dosa kecil semata,
tapi karena marah merusak manusia dari dalam.

Dan Allah memuji orang yang:

“Menahan amarah dan memaafkan manusia.”
(QS. Ali ‘Imran: 134)

Menahan amarah di sini bukan berarti memendam tanpa arah.
Tapi mengendalikan, lalu menyalurkannya dengan cara yang benar.

Islam tidak meniadakan emosi.
Islam mengatur emosi agar tidak menghancurkan tubuh dan jiwa.

Marah, Jantung, dan Mizaj Tubuh

Dalam pendekatan kesehatan Arab klasik, marah sangat berkaitan dengan kondisi “panas” dalam tubuh.

Orang dengan kecenderungan mizaj panas:

  • lebih cepat bereaksi,
  • emosinya kuat,
  • jantungnya lebih responsif terhadap stres.

Kalau orang seperti ini:

  • kurang tidur,
  • pola makan memicu panas,
  • stres berkepanjangan,

maka marah akan lebih mudah muncul dan lebih berat dampaknya ke jantung.

Di sinilah pentingnya memahami:
tidak semua orang bereaksi sama terhadap marah.

Ada yang cepat reda.
Ada yang sekali marah, efeknya panjang.

Kenapa Ada Orang “Kelihatannya Biasa”, Tiba-Tiba Kena Jantung?

Ini sering membuat keluarga bingung.

“Orangnya kelihatan santai.”
“Tidak pernah mengeluh.”
“Tiba-tiba serangan jantung.”

Sering kali, di balik itu ada:

  • emosi yang lama dipendam,
  • tekanan hidup yang tidak pernah dikeluarkan,
  • marah yang tidak pernah diberi ruang sehat.

Jantung menjadi korban terakhir dari konflik batin yang tidak selesai.

Mengelola Marah Itu Bagian dari Ikhtiar Menjaga Jantung

Menjaga jantung bukan cuma soal:

  • makan rendah lemak,
  • olahraga,
  • cek kolesterol.

Itu penting, tapi belum cukup.

Mengelola marah adalah ikhtiar kesehatan, bukan sekadar akhlak.

Beberapa langkah sederhana tapi penting:

  • kenali pemicu marah,
  • beri jeda sebelum bereaksi,
  • cari cara aman menyalurkan emosi,
  • perbaiki pola tidur dan makan,
  • kurangi stimulasi yang memicu panas emosi.

Dan yang paling penting:
jangan merasa bersalah karena punya emosi.
Yang perlu dibenahi adalah cara mengelolanya.

Doa Nabi ﷺ dan Kesehatan Jantung

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang sangat relevan:

“Ya Allah, jauhkan aku dari sifat lemah dan malas, dari rasa takut dan sedih, dari sifat kikir dan pengecut…”

Marah yang tidak terkelola sering berakar dari:

  • rasa takut,
  • kecewa,
  • luka lama,
  • kelelahan jiwa.

Doa ini bukan hanya untuk ketenangan hati,
tapi juga perlindungan tubuh dari dampak emosi yang merusak.

Jalan Tengah: Tidak Meledak, Tidak Memendam

Islam selalu mengajarkan jalan tengah.

Tidak meledak-ledak.
Tidak memendam sampai sakit.

Marah diakui,
dikendalikan,
lalu diarahkan.

Kalau perlu bicara, bicara dengan adab.
Kalau perlu diam, diam dengan tenang.
Kalau perlu menjauh, menjauh tanpa memutus silaturahmi.

Ini bukan kelemahan.
Ini kecerdasan emosi yang menyelamatkan jantung.

Penutup: Jantung Tidak Bisa Dibohongi

Jantung tidak mengerti dalih.
Ia bekerja sesuai tekanan yang diterimanya.

Kalau hari ini Anda:

  • sering marah,
  • mudah tersinggung,
  • atau memendam emosi bertahun-tahun,

jangan tunggu jantung memberi alarm keras.

Mengelola marah bukan hanya demi hubungan yang lebih baik,
tapi demi umur yang lebih panjang dan ibadah yang lebih kuat.

Ajakan Belajar

Kalau Anda ingin memahami hubungan antara emosi, mizaj tubuh, dan kesehatan jantung dengan pendekatan yang utuh—tidak hanya psikologis, tidak hanya medis, dan tetap berpijak pada tauhid—maka memang perlu belajar dari ilmunya.

Di ITHBI (Institut Ath Thibbul Badil Indonesia), kesehatan Arab klasik dan thibbun nabawi dipelajari sebagai jalan hidup yang seimbang.
Bukan sekadar mengobati organ,
tapi menata emosi, pola hidup, dan hubungan dengan Allah.

Karena dalam Islam, menjaga jantung bukan hanya agar hidup lebih lama,
tapi agar hati lebih lapang saat menghadap-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.