Coba kita duduk sebentar. Tidak usah buru-buru mencari jawaban.
Izinkan saya bertanya pelan-pelan.
Pernah tidak Anda merasa sedih…
bukan sedih sehari dua hari,
tapi sedih yang rasanya panjang, menempel, dan tidak kunjung selesai?
Bangun pagi rasanya berat.
Tersenyum terasa dipaksa.
Ibadah masih jalan, tapi hambar.
Hidup berjalan, tapi hati seperti tertinggal jauh di belakang.
Lalu muncul pertanyaan yang sering dipendam sendirian:
“Ini saya lagi diuji Allah… atau saya sebenarnya sedang sakit?”
Pertanyaan ini wajar.
Dan Islam tidak pernah melarang kita bertanya tentang kondisi hati.
Sedih Itu Fitrah, Bukan Aib
Pertama-tama, kita luruskan satu hal penting.
Sedih itu bukan tanda iman lemah.
Sedih itu bukan dosa.
Sedih itu bukan kegagalan sebagai Muslim.
Para nabi merasakannya.
Nabi Ya‘qub ‘alaihis salam sedih sampai matanya memutih.
Bukan sebentar. Bertahun-tahun.
Dan Allah tidak mencelanya.
Artinya, sedih adalah bagian dari kemanusiaan, bukan lawan dari keimanan.
Masalahnya bukan pada sedihnya.
Masalahnya pada sedih yang menetap dan menggerogoti kehidupan.
Islam Mengakui Ada Sedih yang Sehat dan Sedih yang Tidak
Dalam Islam, tidak semua sedih dipandang sama.
Ada sedih yang:
- mendekatkan kepada Allah,
- melembutkan hati,
- membuat doa lebih jujur.
Tapi ada juga sedih yang:
- mematikan semangat hidup,
- membuat seseorang menarik diri,
- merusak fungsi tubuh dan pikiran,
- menjauhkan dari harapan.
Sedih yang pertama biasanya bagian dari ujian.
Sedih yang kedua sering kali sudah masuk wilayah penyakit.
Dan Islam tidak mengajarkan kita untuk membiarkan diri sakit sambil berkata,
“Ini ujian, sabar saja.”
Nabi ﷺ Mengajarkan Kita Berlindung dari Sedih
Perhatikan satu doa yang sering dibaca Rasulullah ﷺ:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan…”
Kalau semua kesedihan adalah ujian yang harus diterima apa adanya,
kenapa Nabi justru meminta perlindungan darinya?
Ini isyarat penting.
Islam membedakan antara:
- sedih yang menguatkan iman,
- dan sedih yang melemahkan jiwa.
Yang kedua bukan untuk dipelihara, tapi diupayakan untuk disembuhkan.
Kapan Sedih Masih Ujian, Kapan Sudah Jadi Penyakit?
Coba kita lihat dengan jujur, tanpa menghakimi diri sendiri.
Sedih cenderung masih bagian dari ujian jika:
- masih bisa merasakan harapan,
- masih bisa menikmati hal kecil,
- masih bisa bangkit meski pelan,
- fungsi hidup masih berjalan meski berat.
Tapi sedih mulai mengarah ke penyakit jika:
- kehilangan minat hampir pada semua hal,
- lelah berkepanjangan tanpa sebab fisik,
- tidur dan makan terganggu,
- emosi mati rasa atau terlalu sensitif,
- merasa tidak berharga,
- muncul pikiran ingin menghilang.
Ini bukan soal iman kurang.
Ini tanda sistem emosi dan saraf sedang kelelahan.
Sains Menjelaskan Apa yang Terjadi Saat Sedih Berkepanjangan
Sekarang kita dengarkan sains, dengan tenang.
Sedih yang lama dan dalam memengaruhi:
- hormon serotonin dan dopamin,
- sistem saraf otonom,
- kualitas tidur,
- daya tahan tubuh.
Tubuh masuk mode “hemat energi”.
Semangat turun.
Gerak melambat.
Pikiran berat.
Dalam kondisi ini, orang sering dipaksa untuk “kuat” secara spiritual,
padahal tubuhnya sedang tidak sanggup.
Dan ini penting dipahami:
Allah tidak membebani jiwa di luar kemampuannya.
Kesalahan Umum: Semua Sedih Disuruh Sabar
Banyak orang yang datang dengan sedih berat, lalu hanya mendapat nasihat:
- “Kurang iman.”
- “Kurang syukur.”
- “Perbanyak istighfar.”
Padahal orang itu:
- sudah sholat,
- sudah dzikir,
- sudah menangis di sajadah,
- tapi tetap tidak membaik.
Bukan karena dzikirnya salah.
Bisa jadi karena jalur yang ditempuh belum lengkap.
Islam tidak mengajarkan penyederhanaan yang menyakiti.
Dalam Kesehatan Arab Klasik: Sedih Berkaitan dengan Kondisi Dingin–Kering
Dalam tradisi kesehatan Arab klasik, sedih berkepanjangan sering dikaitkan dengan kondisi tubuh yang cenderung dingin dan kering.
Ciri yang sering muncul:
- energi turun,
- wajah murung,
- menarik diri,
- pikiran berputar ke masa lalu,
- sulit merasa hangat secara emosional.
Kalau kondisi ini:
- ditambah kurang tidur,
- makan tidak seimbang,
- minim gerak,
- dan beban pikiran lama,
maka sedih akan semakin “mengendap”.
Ini bukan dosa.
Ini mekanisme tubuh yang kelelahan.
Islam Tidak Memisahkan Doa dan Ikhtiar
Kalau sedih sudah berkepanjangan, Islam tidak menyuruh kita pasrah pasif.
Nabi ﷺ:
- berdoa,
- tapi juga mencari sebab,
- dan menerima pertolongan dengan cara yang Allah bukakan.
Mengobati sedih bisa melibatkan:
- memperbaiki ritme hidup,
- menata pola tidur,
- menyeimbangkan makan,
- berbicara dengan orang yang aman,
- dan tentu saja, mendekat kepada Allah.
Semua ini tidak saling meniadakan.
Jangan Malu Mengakui Lelah
Saya ingin sampaikan ini dengan sangat lembut:
Mengakui lelah bukan berarti kalah.
Mengakui sedih bukan berarti gagal.
Mencari bantuan bukan berarti kurang tawakal.
Justru itu bentuk kejujuran kepada diri sendiri dan kepada Allah.
Penutup: Dengarkan Sedihmu, Jangan Dimusuhi
Sedih itu seperti tamu.
Kalau datang sebentar, ia membawa pesan.
Kalau menetap terlalu lama, ia perlu ditangani.
Kalau hari ini Anda masih bertanya:
“Ini ujian atau penyakit?”
Bisa jadi jawabannya: dua-duanya.
Ujian yang, kalau dibiarkan, berubah jadi penyakit.
Dan penyakit yang, kalau diurus dengan benar, menjadi jalan kedewasaan iman.
Allah Maha Lembut.
Dia tidak meminta Anda kuat sendirian.
Ajakan Belajar
Kalau Anda ingin memahami kesedihan dari sudut pandang yang utuh—
tidak menyederhanakan agama,
tidak menafikan sains,
dan tetap berpijak pada tauhid—
maka belajar tentang kesehatan jiwa dan tubuh dalam Islam menjadi sangat penting.
Di ITHBI (Institut Ath Thibbul Badil Indonesia), kesehatan Arab klasik dan thibbun nabawi dipelajari untuk membantu manusia memahami dirinya, bukan menghakimi dirinya.
Karena dalam Islam, tujuan sembuh bukan sekadar agar tidak sedih,
tapi agar hati kembali punya harapan untuk berjalan menuju Allah.
Wallahu a’lam bish-shawab.