Coba kita bicara pelan-pelan, tanpa menghakimi diri sendiri.
Pernah tidak Anda merasa hati ini seperti penuh?
Bukan penuh bahagia, tapi penuh marah yang belum selesai,
sedih yang dipendam,
dan khawatir yang berputar-putar di kepala.
Badan jadi cepat capek.
Pikiran sulit fokus.
Ibadah tetap dikerjakan, tapi rasanya berat.
Di titik ini, banyak orang bertanya:
“Harus diapakan emosi seperti ini dalam Islam?”
Jawabannya menarik.
Al-Qur’an tidak menyuruh kita mematikan emosi,
tapi mengajarkan cara membersihkannya.
Kalau tubuh butuh detoks,
hati pun butuh detoks.
Emosi Itu Tidak Salah, Yang Salah Cara Menyimpannya
Islam tidak memusuhi emosi.
Marah itu ada.
Sedih itu ada.
Khawatir itu ada.
Bahkan disebutkan jelas dalam Al-Qur’an melalui kisah para nabi dan orang-orang saleh.
Yang jadi masalah bukan emosinya,
tapi emosi yang mengendap terlalu lama,
tidak dikeluarkan dengan cara yang benar,
dan akhirnya merusak ketenangan hati.
Detoks emosi dalam Islam bukan membuang emosi,
tapi mengembalikannya ke tempat yang semestinya.
Marah dalam Al-Qur’an: Ditahan, Bukan Dipendam
Marah sering dianggap emosi paling berbahaya.
Karena saat marah, manusia mudah berkata dan bertindak tanpa kendali.
Al-Qur’an tidak berkata, “Jangan pernah marah.”
Tapi Allah memuji orang yang menahan marah.
“(Yaitu) orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia.”
(QS. Ali ‘Imran: 134)
Perhatikan baik-baik.
Menahan marah bukan berarti memendam sampai sakit.
Menahan marah artinya memberi jeda, memberi kendali, agar marah tidak mengambil alih akal dan iman.
Marah yang tidak dikelola:
- membuat dada panas,
- jantung bekerja keras,
- pikiran gelap,
- kata-kata melukai.
Karena itu Nabi ﷺ memberi langkah praktis:
- diam saat marah,
- duduk jika berdiri,
- berwudhu,
- berpindah posisi.
Semua ini bukan simbolis.
Ini cara menurunkan panas emosi agar tidak merusak diri dan orang lain.
Itulah detoks marah dalam Islam:
bukan ditumpuk, tapi didinginkan.
Sedih dalam Al-Qur’an: Diterima, Tapi Tidak Dipelihara
Sedih adalah emosi yang sering paling sunyi.
Ia tidak meledak, tapi menggerogoti pelan-pelan.
Al-Qur’an tidak menafikan sedih.
Allah menyebutkannya berulang kali.
Namun perhatikan satu kalimat yang sering muncul:
“Laa khaufun ‘alaihim wa laa hum yahzanun.”
“Tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih.”
Kalimat ini bukan teguran bagi orang yang sedang sedih.
Ini janji—bahwa sedih bukan kondisi akhir.
Allah juga menghibur para nabi dengan kalimat yang sama:
“Janganlah engkau bersedih.”
Bukan berarti sedih itu salah,
tapi sedih tidak boleh menjadi tempat tinggal permanen.
Sedih yang dibiarkan terlalu lama:
- membuat energi turun,
- pikiran terus ke masa lalu,
- harapan menghilang.
Detoks sedih dalam Islam dilakukan dengan:
- menangis di hadapan Allah,
- mengadukan luka dalam doa,
- mengalihkan pandangan dari masa lalu ke harapan yang Allah janjikan.
Sedih perlu dikeluarkan,
bukan disangkal,
dan bukan dipelihara.
Khawatir dalam Al-Qur’an: Dipindahkan dari Diri ke Allah
Khawatir itu berbeda dengan takut.
Takut biasanya ada sebab yang jelas.
Khawatir sering kali datang dari pikiran tentang hal yang belum tentu terjadi.
Dan ini emosi yang paling melelahkan.
Al-Qur’an sangat tegas dalam urusan khawatir:
“Cukuplah Allah sebagai Penolong.”
“Allah Maha Mengetahui apa yang kalian khawatirkan.”
Khawatir muncul ketika manusia merasa:
- harus mengendalikan segalanya,
- harus memastikan semuanya aman,
- harus memikul masa depan sendirian.
Padahal Islam mengajarkan satu prinsip besar:
tugas manusia berikhtiar, bukan mengendalikan hasil.
Detoks khawatir dalam Islam adalah memindahkan beban.
Dari pundak kita, ke dalam tawakal kepada Allah.
Bukan pasrah kosong.
Tapi bekerja dengan batas, lalu menyerahkan sisanya.
Kenapa Emosi Perlu Didetoks?
Karena emosi yang tidak “keluar” akan mencari jalan lain.
Kalau tidak keluar lewat:
- doa,
- komunikasi sehat,
- tangisan yang jujur,
maka ia akan keluar lewat:
- tubuh yang sakit,
- jantung yang lelah,
- lambung yang bermasalah,
- pikiran yang kacau.
Islam itu agama yang sangat realistis.
Ia tidak menyuruh kita suci dari emosi, tapi bersih dalam mengelolanya.
Detoks Emosi Bukan Sekali Jadi
Perlu dipahami satu hal penting:
detoks emosi bukan satu kali lalu selesai.
Seperti tubuh yang setiap hari terpapar makanan dan racun, hati pun setiap hari terpapar:
- konflik,
- kekecewaan,
- ketakutan,
- luka kecil yang menumpuk.
Maka detoks emosi adalah proses harian:
- menahan marah sebelum meledak,
- mengeluarkan sedih sebelum membusuk,
- menyerahkan khawatir sebelum menyesakkan.
Al-Qur’an tidak memberi jalan pintas, tapi memberi jalan hidup.
Kesalahan Umum: Menganggap Emosi Itu Lemah Iman
Banyak orang merasa bersalah karena emosinya.
“Harusnya saya tidak marah.”
“Harusnya saya tidak sedih.”
“Harusnya saya lebih tawakal.”
Kalimat “harusnya” sering justru menambah beban.
Islam tidak mengajarkan itu.
Islam mengajarkan kejujuran di hadapan Allah.
Doa-doa dalam Al-Qur’an dan sunnah penuh dengan:
-
keluhan,
-
harapan,
-
ketakutan,
-
air mata.
Dan Allah tidak murka dengan itu.
Penutup: Bersihkan Hati, Jangan Dikeraskan
Hati itu bukan besi.
Ia diciptakan untuk lembut,
tapi kuat dengan cara yang benar.
Marah perlu ditenangkan.
Sedih perlu dikeluarkan.
Khawatir perlu diserahkan.
Itulah detoks emosi dalam Al-Qur’an.
Bukan dengan menyangkal perasaan,
tapi dengan mengembalikannya kepada Allah—satu per satu.
Ajakan Belajar
Kalau Anda ingin belajar mengelola emosi dengan pendekatan Islam yang utuh—
tidak sekadar motivasi,
tidak menafikan sains,
dan tetap bertumpu pada tauhid—
maka memahami kesehatan jiwa dan tubuh dalam Islam menjadi sangat penting.
Di ITHBI (Institut Ath Thibbul Badil Indonesia), kesehatan Arab klasik dan thibbun nabawi dipelajari sebagai cara hidup yang seimbang:
mengenali tubuh,
menata emosi,
dan mendekat kepada Allah dengan sadar.
Karena hati yang bersih bukan hati yang tidak pernah terluka,
tapi hati yang tahu bagaimana kembali tenang setelah terluka.
Wallahu a’lam bish-shawab.