Ada satu adegan Al-Qur’an yang selalu membuat dada terasa sesak—bukan karena takut, tapi karena haru yang dalam.
Seorang perempuan suci, Maryam binti Imran-semoga Allah merahmatinya, sendirian.
Tidak ada bidan.
Tidak ada keluarga.
Tidak ada pelindung.
Ia hamil tanpa pernah disentuh lelaki. Ia tahu, setelah melahirkan, fitnah manusia akan datang seperti badai. Rasa sakit melahirkan memaksanya bersandar pada pangkal pohon kurma. Dalam kelelahan, ketakutan, dan kesepian yang nyaris mematahkan jiwa, ia berbisik:
“Wahai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini dan menjadi sesuatu yang dilupakan.”
(QS. Maryam: 23)
Ini bukan keluhan orang lemah iman. Ini jeritan manusiawi dari seorang hamba pilihan Allah.
Lalu pertolongan itu datang. Bukan dengan mukjizat yang menghapus semua sebab. Bukan dengan kurma yang jatuh begitu saja. Allah berfirman:
“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya ia menggugurkan kepadamu kurma yang masak.”
(QS. Maryam: 25)
Berhentilah sejenak di ayat ini.
Maryam baru saja melahirkan. Tubuhnya lemah. Pohon kurma itu besar, kokoh, nyaris mustahil digoyangkan oleh seorang perempuan dalam kondisi seperti itu.
Namun Allah tetap berkata: goyangkan.
Di sinilah pelajaran besar tentang tawakal diturunkan—bukan di medan perang, bukan di mimbar, tapi di ruang sunyi seorang ibu yang hampir putus asa.
Ikhtiar di Tengah Ketidakberdayaan: Pelajaran dari Maryam
Allah Maha Kuasa menjatuhkan kurma tanpa digoyang. Tapi Dia tidak melakukannya. Mengapa?
Karena tawakal bukan berarti meniadakan ikhtiar, bahkan ketika ikhtiar itu tampak kecil, lemah, dan hampir tidak masuk akal. Allah ingin mengajarkan kepada umat manusia sepanjang zaman:
Lakukan bagianmu, walau kecil. Biarkan Aku menyempurnakan sisanya.
Goyangan Maryam mungkin hanya sentuhan ringan. Tapi di situlah letak ibadahnya.
Ia taat.
Ia bergerak.
Ia tidak diam menunggu keajaiban.
Dan dari ketaatan kecil itu, Allah turunkan rezeki: kurma yang menyehatkan, menguatkan, dan secara ilmiah memang sangat dibutuhkan oleh ibu melahirkan.
Tawakal tidak pernah berdiri di atas kemalasan. Ia selalu lahir dari ketaatan yang bergerak.
Salah Kaprah Tawakal: Ketika Pasrah Menyamar sebagai Iman
Di zaman ini, tawakal sering disalahpahami. Ada yang berkata:
- “Tidak usah usaha, rezeki sudah diatur.”
- “Tidak perlu berobat, yang menyembuhkan kan Allah.”
- “Tidak usah belajar, yang penting doa.”
Kalimat-kalimat ini terdengar religius, tapi tidak selaras dengan manhaj salafusshalih. Ini bukan tawakal, ini tawaakul—pasrah kosong yang ditolak para ulama.
Allah tidak memerintahkan Maryam untuk duduk diam. Allah tidak memerintahkan manusia untuk mematikan sebab. Justru sebaliknya.
Nabi ﷺ dan Tawakal yang Aktif
Perhatikan kehidupan Nabi Muhammad—manusia paling bertawakal yang pernah hidup.
Beliau berdoa, dan berstrategi.
Beliau yakin kepada Allah, dan memakai baju besi.
Beliau tawakal, dan berobat.
Beliau bersabda:
“Berobatlah kalian, karena Allah tidak menurunkan penyakit kecuali Dia menurunkan pula obatnya.”
(HR. Abu Dawud, shahih)
Apakah berobat berarti kurang iman? Tidak. Berobat adalah bentuk ketaatan kepada sunnatullah yang Allah tetapkan dalam tubuh manusia.
Para sahabat memahami ini dengan jernih. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah menegur sekelompok orang yang tidak bekerja dan berkata, “Kami bertawakal.” Umar menjawab, “Kalian bukan orang yang bertawakal, kalian orang yang bermalas-malasan.”
Keras? Ya. Tapi itulah kejujuran iman.
Penjelasan Ulama Salaf: Tawakal Ada di Hati, Ikhtiar Ada di Anggota Badan
Imam Ahmad rahimahullah berkata:
Tawakal adalah amal hati, sedangkan mencari sebab adalah amal anggota badan.
Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan:
Meninggalkan sebab yang Allah perintahkan adalah cacat dalam tawakal. Bergantung pada sebab adalah cacat dalam tauhid.
Dan Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan dengan sangat indah:
Allah menciptakan sebab dan akibat. Maka mengabaikan sebab sama saja menentang hikmah Allah.
Manhaj salaf itu jernih: bergeraklah tanpa menyembah gerakanmu.
Ikhtiar Itu Ibadah, Jika Tauhidnya Lurus
Bekerja untuk menafkahi keluarga—ibadah.
Belajar menjaga kesehatan agar kuat beribadah—ibadah.
Mengobati tubuh dengan cara yang halal dan ilmiah—ibadah.
Selama niatnya lurus dan caranya benar, ikhtiar bukan sekadar urusan dunia. Ia bagian dari penghambaan.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”
(QS. Al-Baqarah: 195)
Ayat ini bukan hanya tentang perang. Ia tentang menjaga jiwa, menjaga tubuh, menjaga amanah kesehatan yang Allah titipkan.
Maryam, Kurma, dan Kesehatan: Isyarat yang Sering Terlewat
Kurma yang Allah jatuhkan kepada Maryam bukan kebetulan. Dalam tradisi kesehatan Arab klasik dan thibbun nabawi, kurma dikenal sebagai makanan yang:
- Menguatkan tubuh,
- Mengembalikan energi,
- Mendukung pemulihan pasca melahirkan.
Ini bukan sekadar kisah spiritual. Ini pertemuan antara wahyu dan sunnatullah tubuh manusia. Al-Qur’an mengajarkan iman, sekaligus memberi isyarat kesehatan—bagi yang mau membaca dengan jujur.
Penutup: Bergeraklah, Lalu Berserahlah
Jika Maryam saja—dalam kondisi paling lemah—masih diperintahkan untuk bergerak, lalu siapa kita hingga merasa pantas diam?
Tawakal bukan alasan untuk berhenti belajar.
Bukan dalih untuk menolak ikhtiar.
Bukan pembenaran untuk mengabaikan ilmu.
Ikatlah unta. Goyangkan pohon kurma. Lakukan bagianmu.
Setelah itu, sandarkan hatimu sepenuhnya kepada Allah.
Ajakan Belajar: Menghidupkan Ikhtiar yang Bertauhid
Jika Anda ingin memahami bagaimana Islam memandang kesehatan dengan utuh—bukan sekadar “herbal sunnah”, tapi kesehatan Arab klasik dan thibbun nabawi yang tegak di atas tauhid, ilmu, dan adab—maka inilah saatnya belajar dengan benar.
Di ITHBI (Institut Ath Thibbul Badil Indonesia), kita tidak diajak mengganti tawakal dengan mitos, tapi menguatkan tawakal dengan ikhtiar yang ilmiah dan syar’i.
Belajar membaca tubuh sebagai ayat Allah.
Belajar berobat tanpa syirik.
Belajar bergerak tanpa kehilangan iman.
Karena iman yang lurus tidak melahirkan kemalasan.
Ia melahirkan hamba yang bergerak, lalu berserah.
Wallahu a’lam bish-shawab.