Coba saya ajak Anda jujur sebentar.
Pernah tidak begini:
ada yang bilang, “Minum ini sunnah, herbal, alami.”
Lalu Anda minum dengan niat baik.
Beberapa hari pertama terasa lumayan.
Masuk hari-hari berikutnya, badan justru terasa aneh—perut tidak nyaman, kepala berat, tidur gelisah.
Lalu muncul kalimat yang sering bikin orang bingung:
“Katanya herbal itu aman, kok saya malah tidak enak badan?”
Nah, di titik ini kita perlu duduk sebentar dan meluruskan pemahaman.
Karena tidak semua yang herbal otomatis cocok untuk semua tubuh.
Herbal Itu Alami, Tapi Tubuh Juga Alami
Sering kali orang berpikir begini:
“Kalau kimia berbahaya, berarti herbal pasti aman.”
Logikanya kelihatan masuk akal, tapi sebenarnya tidak sesederhana itu.
Racun juga alami.
Bisa ular juga alami.
Jamur beracun juga tumbuh dari tanah.
Alami bukan berarti otomatis cocok, apalagi kalau dipakai tanpa ilmu.
Islam sendiri tidak pernah mengajarkan cara berpikir yang serba hitam-putih.
Nabi ﷺ Tidak Mengajarkan Asal Minum Herbal
Ini penting diluruskan.
Nabi ﷺ memang menggunakan pengobatan alami.
Beliau menyebut madu, habbatussauda, bekam, dan beberapa metode lain.
Tapi perhatikan satu hal:
Nabi ﷺ tidak pernah mengajarkan semua orang minum satu herbal yang sama untuk semua kondisi.
Ada orang sakit demam, ditangani dengan cara tertentu.
Ada yang luka, dengan cara lain.
Ada yang lemah, dengan pendekatan berbeda.
Artinya, dari awal Islam mengajarkan ketepatan, bukan sekadar kealamian.Masalah Zaman Sekarang: Herbal Disamaratakan
Hari ini banyak orang jatuh ke dua ekstrem:
- satu ekstrem anti herbal,
- satu ekstrem menganggap herbal solusi semua penyakit.
Yang kedua ini justru sering lebih berbahaya.
Sedikit-sedikit:
“Minum ini saja, sunnah.”
“Kalau belum sembuh, berarti kurang istiqamah.”
“Kalau bereaksi, itu tandanya racun keluar.”
Padahal bisa jadi itu tanda tubuh tidak cocok.
Tubuh tidak mengenal slogan.
Tubuh hanya merespons apa yang masuk ke dalamnya.
Tubuh Manusia Itu Berbeda-Beda
Kita ulangi satu prinsip penting yang sering dilupakan.
Tidak semua orang:
- punya pencernaan yang sama,
- punya kekuatan lambung yang sama,
- punya keseimbangan panas-dingin yang sama,
- punya kondisi emosi yang sama.
Herbal yang menghangatkan akan terasa baik pada orang tertentu,
tapi bisa membuat orang lain:
- jantung berdebar,
- susah tidur,
- lambung panas,
- emosi mudah naik.
Herbal yang mendinginkan bisa menenangkan sebagian orang,
tapi membuat yang lain:
- badan lemas,
- mudah kedinginan,
- pencernaan melemah.
Kalau tubuhnya berbeda, responnya wajar berbeda.
Dalam Kesehatan Arab Klasik: Herbal Punya Sifat
Dalam tradisi kesehatan Arab klasik dan thibbun nabawi, herbal tidak dinilai hanya dari “alami atau tidak”.
Setiap herbal dipahami punya sifat:
- ada yang menghangatkan,
- ada yang mendinginkan,
- ada yang mengeringkan,
- ada yang melembabkan,
- ada yang kuat,
- ada yang lembut.
Dan tubuh manusia juga punya kecenderungan.
Masalah muncul ketika:
- tubuh yang sudah panas diberi herbal panas,
- tubuh yang lemah diberi herbal terlalu keras,
- tubuh yang dingin diberi herbal mendinginkan terus-menerus.
Bukan salah herbanya.
Yang salah cara memilih dan cara memakainya.
Kenapa Ada Orang Cocok, Anda Tidak?
Ini pertanyaan yang sering bikin minder.
“Dia minum ini langsung enak.”
“Saya minum kok malah pusing.”
Jawabannya sederhana:
karena tubuh Anda bukan tubuh dia.
Dan dalam Islam, memaksakan sesuatu yang menyakiti diri sendiri bukan bentuk kesalehan.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.”
Kalau sebuah herbal membuat:
- ibadah jadi berat,
- badan makin lemah,
- emosi makin tidak stabil,
itu tanda perlu evaluasi, bukan dipaksakan.
Herbal Juga Bisa Jadi Beban Jika Salah Cara
Ada beberapa kesalahan umum yang sering terjadi:
Minum herbal terlalu banyak sekaligus.
Minum herbal kuat tanpa pendamping.
Minum herbal tanpa memperhatikan kondisi lambung.
Minum herbal saat tubuh sedang sangat lelah atau stres berat.
Herbal bukan permen.
Ia bekerja pada sistem tubuh yang nyata.
Kalau salah pendekatan, yang terjadi bukan sembuh, tapi ketidakseimbangan baru.
Islam Mengajarkan Hikmah, Bukan Fanatisme
Dalam Islam, hikmah itu menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Herbal itu nikmat.
Tapi bukan berarti semua orang harus minum herbal yang sama.
Bekam itu sunnah.
Tapi bukan berarti semua penyakit harus dibekam.
Madu itu disebut penyembuh.
Tapi bukan berarti diminum tanpa takaran dan tanpa melihat kondisi.
Sunnah bukan berarti seragam.
Sunnah itu tepat dan seimbang.
Dengarkan Reaksi Tubuh, Jangan Dilawan
Tubuh itu amanah.
Ia tidak bisa bicara, tapi selalu jujur.
Kalau setelah minum sesuatu tubuh Anda:
- terasa lebih ringan,
- ibadah lebih khusyuk,
- tidur lebih nyenyak,
itu pertanda baik.
Kalau sebaliknya:
- jangan menyalahkan iman,
- jangan menyalahkan diri,
- jangan menyalahkan herbalnya juga.
Bisa jadi yang dibutuhkan adalah penyesuaian, bukan pemaksaan.
Jalan Tengah yang Lebih Selamat
Islam tidak memerintahkan kita memilih antara:
“herbal atau medis”
“alami atau ilmiah”
Islam mengajarkan kita memilih:
- yang halal,
- yang sesuai,
- yang membawa maslahat.
Herbal boleh.
Medis boleh.
Yang tidak boleh adalah menyakiti diri sendiri dengan dalih kebaikan.
Herbal Itu Alat, Bukan Tujuan
Herbal bukan simbol kesalehan.
Ia hanya alat.
Tujuan kita bukan sekadar minum yang alami,
tapi menjaga tubuh agar:
- bisa beribadah dengan tenang,
- bisa hidup dengan seimbang,
- bisa menjalani amanah dengan kuat.
Kalau hari ini Anda bertanya,
“Apakah semua herbal itu bagus buat tubuh?”
Jawabannya:
bagus kalau tepat, bermasalah kalau dipaksakan.