Saat Emosi Menjadi Penyakit: Pandangan Islam & Sains

 

 

 

 

Pernah tidak, Anda merasa badan capek terus, tapi kalau diperiksa dokter katanya “normal”?
Atau lambung sering kambuh, dada terasa sesak, jantung suka berdebar, padahal obat sudah diminum?

Kalau sudah sampai di titik ini, izinkan saya bicara sebagai guru yang sedang duduk berhadapan dengan muridnya.

Sering kali, yang bermasalah bukan pertama-tama tubuhnya.
Yang lebih dulu kelelahan itu hati dan emosinya.

Islam Tidak Pernah Menganggap Remeh Urusan Hati

Di dalam Al-Qur’an, Allah tidak hanya bicara tentang sakit badan.
Allah bicara sangat serius tentang sakit hati.

Allah berfirman:

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu…”
(QS. Al-Baqarah: 10)

Artinya apa?
Dalam pandangan Islam, hati itu bisa sakit. Dan kalau dibiarkan, sakitnya bisa bertambah.

Lalu Rasulullah ﷺ mengingatkan kita dengan bahasa yang sangat sederhana, sangat manusiawi:

“Dalam tubuh ada segumpal daging. Kalau ia baik, seluruh tubuh ikut baik. Kalau ia rusak, seluruh tubuh ikut rusak. Itulah hati.”

Coba kita cerna pelan-pelan.
Kalau hatinya kacau, tubuh tidak akan benar-benar tenang.
Kalau hatinya terus tertekan, badan lama-lama ikut menanggung.

Ini bukan teori rumit. Ini kenyataan hidup yang sering kita lihat sehari-hari.

Emosi Itu Fitrah, Tapi Tidak Boleh Dibiarkan Liar

Islam tidak pernah melarang emosi.

Sedih itu manusiawi.
Marah itu wajar.
Takut itu fitrah.

Para nabi pun mengalaminya.

Nabi Ya‘qub sedih sampai matanya memutih.
Nabi Musa pernah marah.
Bunda Maryam bahkan sempat berkata, “Seandainya aku mati sebelum ini…”

Jadi kalau hari ini Anda sedih, cemas, atau mudah tersinggung, itu bukan berarti iman Anda rusak.

Yang jadi masalah adalah emosi yang terus dipendam, tidak diolah, dan tidak diarahkan.

Saat Emosi Dipendam, Tubuh yang Bicara

Coba jujur ke diri sendiri.

Berapa banyak marah yang ditahan karena “tidak enak”?
Berapa banyak sedih yang dipendam karena “harus kuat”?
Berapa banyak takut yang disimpan sendiri karena “tidak boleh lemah”?

Emosi yang tidak keluar lewat jalan yang sehat, biasanya akan mencari jalan lain.
Dan sering kali, jalannya lewat tubuh.

Maka muncul:

  • dada terasa berat,
  • napas pendek,
  • jantung berdebar,
  • lambung perih,
  • badan lemas,
  • kepala pusing tanpa sebab jelas.

Tubuh seperti sedang berkata,
“Kalau hati tidak didengarkan, saya yang terpaksa bersuara.”

Sains Menguatkan: Emosi Memang Mempengaruhi Fisik

Menariknya, sains modern sampai pada kesimpulan yang sama.

Orang yang hidup dalam stres berkepanjangan:

  • hormon stresnya terus tinggi,
  • sistem sarafnya tidak pernah istirahat,
  • pencernaannya terganggu,
  • daya tahan tubuhnya turun.

Kalau ini berlangsung lama, penyakit mulai bermunculan.
Bukan karena organnya rusak, tapi karena sistemnya kelelahan.

Sains menyebut kondisi ini sebagai gangguan psikosomatis.
Islam menyebutnya dengan bahasa yang lebih sederhana: hati yang tidak tenang.

Al-Qur’an Sudah Lebih Dulu Mengajarkan Menenangkan Hati

Allah berfirman:

“Ingatlah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra‘d: 28)

Perhatikan baik-baik.
Yang ditenangkan duluan itu hati, bukan badan.

Kalau hatinya mulai tenang, tubuh pelan-pelan akan mengikuti.

Makanya Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang sangat relevan sampai hari ini:

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan…”

Gelisah tentang masa depan.
Sedih tentang masa lalu.

Dua hal ini yang paling sering menggerogoti manusia modern.

Emosi Bukan Musuh, Tapi Amanah

Saya sering sampaikan ke murid-murid:

Marah itu bukan untuk dipendam, tapi diarahkan.
Sedih itu bukan untuk ditolak, tapi dititipkan kepada Allah.
Takut itu bukan untuk dipelihara, tapi dikembalikan kepada Yang Maha Mengatur.

Kalau emosi diarahkan, ia bisa menjadi pahala.
Kalau emosi dibiarkan, ia bisa menjadi penyakit.

Itu sebabnya Allah memuji orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan.
Bukan hanya karena akhlaknya indah, tapi karena itu menyelamatkan hati dan tubuh.

Islam dan Sains Tidak Bertabrakan di Sini

Islam memberi kita arah hidup dan makna.
Sains menjelaskan bagaimana tubuh bekerja.

Kalau keduanya digabung:

  • hati dibersihkan,
  • pikiran ditata,
  • emosi diolah,
  • tubuh dijaga.

Bukan hanya minum obat.
Bukan hanya disuruh sabar.
Tapi memahami manusia secara utuh: jiwa dan jasad.

Penutup: Dengarkan Tubuh, Rawat Hati

Kadang Allah tidak langsung menegur dengan musibah besar.
Kadang tegurannya datang lewat badan yang mulai sering “rewel”.

Bukan untuk menghukum.
Tapi untuk mengajak kita berhenti sebentar dan bertanya:

“Apa yang selama ini aku pendam sendirian?”

Kalau hari ini tubuh Anda sering lelah tanpa sebab jelas, jangan buru-buru memusuhi tubuh.
Bisa jadi ia sedang membantu Anda menyadari sesuatu yang belum selesai di hati.

Ajakan Belajar

Kalau Anda ingin memahami hubungan emosi, kesehatan, dan iman dengan cara yang lurus—tidak mengabaikan sains, tidak terjebak mistik, dan tetap berpijak pada tauhid—maka memang perlu belajar dari jalur yang benar.

Di ITHBI (Institut Ath Thibbul Badil Indonesia), kesehatan dipelajari melalui pendekatan kesehatan Arab klasik dan thibbun nabawi, yang memandang manusia sebagai satu kesatuan: hati, pikiran, dan tubuh.

Karena dalam Islam, sehat bukan hanya soal badan yang kuat,
tapi hati yang tahu ke mana harus kembali saat lelah.

Wallahu a’lam bish-shawab.