Seorang Ibu Usia 65 Tahun, Riwayat Jantung Berat—Tapi Satu Kalimat Ini Mengguncang Hati Saya

Ada hari-hari ketika lelah itu tidak terasa di badan, tapi menumpuk diam-diam di hati.

Hari itu, saya sedang membaca satu per satu pesan yang masuk.
Sampai akhirnya, sebuah chat dari seorang ibu—peserta Kelas Basic Angkatan 11—membuat saya terdiam lama.

Bukan karena panjang ceritanya.
Tapi karena berat takdir yang ia bawa… dan ketenangan cara ia menceritakannya.

Ibu ini berusia 65 tahun.
Di balik tutur katanya yang lembut, tersimpan riwayat medis yang tidak ringan:
– jantung bawaan pulmonal, penyempitan pembuluh darah ke paru-paru,
– jantung kanan yang membengkak,
– dan kebocoran jantung yang besar.

Bukan cerita hasil mengarang.
Cerita ini datang dengan rekam medis dari dua rumah sakit, hasil lab, angka, dan diagnosa yang—kalau dibaca tanpa iman—bisa membuat siapa pun gemetar.

Tapi yang membuat saya tercekat bukan itu.

Ia berkata dengan tenang:

“Alhamdulillah pak ustadz… sudah hampir dua tahun ibu tidak minum obat.”

Dua tahun.
Pada kondisi jantung seperti itu.

Bukan karena menantang medis.
Bukan karena menolak ikhtiar.
Tapi karena ia mengubah cara hidupnya—pelan-pelan, sadar, dan penuh keyakinan.

Ia tidak bicara tentang keajaiban.
– Ia hanya bercerita tentang pola makan yang dibenahi,
– tentang pikiran yang dilatih tenang,
– tentang keyakinan bahwa tubuh ini punya sunnatullah,
– dan tugas kita adalah tidak melawannya.

Ia bahkan berkata, dengan jujur:

“Dulu ibu belum paham mizaj, Pak. Tapi hanya dengan membenahi makan saja, penyakit itu bisa kalah.”

Kalimat itu menghantam saya pelan, tapi dalam.

Ketika akhirnya ia memeriksa lab kembali—hasilnya normal.
Dokternya sampai bertanya panjang lebar:

“Ibu ini gaya hidupnya bagaimana?”

Berat badan beliau 57 kg, di usia 65 tahun.
Tenang. Stabil. Hadir sepenuhnya dalam hidupnya.

Lalu ia menulis satu kalimat yang membuat dada saya menghangat sekaligus gemetar:

“Seperti yang para ustadz katakan di Zoom, ini benar-benar ilmu dari Allah, Pak.”

Di titik itu, saya sadar:
Allah sedang menguatkan hati saya lewat seorang murid.

Di tengah dunia yang bising oleh klaim, di tengah orang-orang yang ingin hasil instan, Allah memperlihatkan bahwa ilmu yang jujur, pelan, dan tawadhu’ bisa menjadi sebab seseorang bertahan… bahkan pulih.

Ibu ini tidak sedang memuji saya.
Ia sedang bersyukur kepada Allah, dan Allah mengizinkan saya ikut menyaksikannya.

Sebagai pengajar, ada saatnya kita ragu:
“Apakah yang kita sampaikan benar-benar bermanfaat?”
“Apakah ini hanya teori, atau betul-betul menolong manusia?”

Hari itu, Allah menjawabnya—bukan dengan tepuk tangan, tapi dengan satu chat dari seorang ibu yang dulu datang dengan jantung yang rapuh, dan kini hidup dengan hati yang tenang.

Dan saya hanya bisa menunduk, lalu berdoa dalam diam:

Ya Allah, jika ilmu ini berasal dari-Mu, jagalah ia tetap lurus.
Jadikan ia sebab sehatnya tubuh, dan lebih dari itu—tenangnya jiwa hamba-hamba-Mu.

Karena pada akhirnya, bukan kita yang menyembuhkan siapa pun.
Kita hanya diminta untuk tidak menghalangi kerja-Mu.

Bogor, 14 Jan 2025
Ust Ryan Suryaman